Setiap Hari, Seratusan Remaja Rembang ‘Nggombal’

VIRUS gombal benar-benar telah merajalela. Di Rembang juga. Di kabupaten ini, menggombal dilakukan tidak hanya oleh remaja. Anak-anak pun demikian. Televisi diduga menjadi penyebab utama penyebaran virus tersebut.”Kamu satpam juga ya?..Kok Tahu?…Karena kamu telah menjaga hatiku,” demikian Novi, salah seorang siswa sekolah dasar di Kecamatan Sumber, menirukan gombalan salah seorang aktor yang bermain pada mata acara bertajuk komedi di salah satu stasiun televisi swasta, dalam perbincangan dengan temannya di halaman sekolah.

Gombalan lain, seperti “Kamu nyambi menjadi tukang parkir ya?…..Emang kenapa?…Habisnya, kamu parkir terus di hatiku”, juga akrab di telinga anak-anak itu. Di sekolah dan kecamatan lain sekalipun.

Gombalan, sebagaimana kamus besar bahasa Indonesia, berarti ucapan yang tidak benar atau tidak sesuai dengan kenyataan alias omongan bohong. Kata-kata gombal sering dilontarkan seseorang kepada pasangannya. Biasanya terkait percintaan.

Baru-baru ini, sebuah stasiun radio swasta di Kota Rembang telah menjajal seberapa banyak “gombalers” di Kota Garam itu. Hasilnya, cukup mencengangkan. Berdasarkan tes sekaligus ajang untuk mencari penggombal terbaik tersebut, tercatat setidaknya seratus remaja di kabupaten ini melontarkan rayuan mautnya setiap hari, sejak 1-14 Februari 2012. Hampir semuanya soal cinta.

“Kami mencoba menangkap minat remaja di kabupaten ini atas rayuan gombal. Tanggapannya luar biasa. Sedikitnya 100 orang remaja mengirimkan status gombalnya melalui jejaring sosial facebook radio kami,” kata Dicky Prasetya, Manajer Program Off/On Air pada Radio Pop FM Rembang.

Bahkan, setiap setengah jam pada 14 Februari 2012 lalu, ada lebih dari 80 status bernada gombalan yang dilontarkan para remaja itu. “Pecandunya rata-rata remaja belia berusia kurang dari 20 tahun. Kami tahu mereka adalah remaja Rembang karena ada data tentang hal itu,” kata dia.

Status gombal yang dilontarkan pun terbilang unik. “Kalau dilihat dari isinya, sepertinya tidak sama dengan yang ada di televisi. Apalagi, kami memang mensyaratkan keunikan pada setiap gombalan agar bisa ditahbiskan sebagai gombalan paling ‘mukiyo’ alias paling gombal,” kata dia.

Penggombal ulung, biasanya mampu menjadikan benda-benda ataupun situasi di sekitarnya menjadi bahan rayuan. Jika pasangan atau lawan jenisnya masih belum mempan dirayu dengan satu gombalan, setumpuk lainnya tersaji kemudian dengan cepat.

Dicky pun mengakui virus gombal menyebar dengan cepat. Meski ia yakin, eranya tidak bakal bertahan lama. “Sesuatu yang mudah ‘booming’, biasanya tak lama akan redup. Demikian halnya dengan kesukaan menggombal,” kata dia.

Ia pun berani berspekulasi, pertengahan tahun ini bakal menjadi titik jenuh era ‘gombal’. Namun demikian, menurutnya, menggombal adalah perilaku laten yang sulit hilang. “Mereka yang ada maunya, biasanya akan tetap melancarkan rayuan gombal. Namun, tidak akan seheboh awal tahun ini,” kata dia. (Puji-suararembang.net)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: