Dengan Kekhusyu’an Dosa Berguguran

Dengan Kekhusyu’an Dosa Berguguran

Shalat semestinya tidak dikerjakan hanya demi menggugurkan kewajiban saja. Shalat sejatinya adalah munajat; waktu untuk menghadap dan  mendekatkan diri kepada Rabb yang Maha Tinggi. Waktu yang seharusnya kita hiasi dengan kekhusyukan tanpa terganggu dengan segala kesibukan duniawi. Konsentrasi dan penuh ketenangan menghadap ilahi, dan melakukan gerakan shalat dengan tuma`ninah, bukan seperti penari.

Pertama yang akan diangkat oleh Allah

Khusyu’, sebuah kata yang mudah diucap tapi berat untuk diamalkan. Berapa banyak dari kita yang mengazamkan kekhusyu’an di awal shalat tapi menjadi lenyap tatkala takbir karena lintasan drama kehidupan yang dilakoni sebelumnya. Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah bahwa khusyu’ merupakan amalan yang pertama kali akan dicabut oleh Allah dari hamba-Nya.

“Hal pertama yang diangkat dari ummat ini adalah khusyu’ sampai-sampai kamu tidak menemukan seorang pun yang khusyu’.” (HR. Thabrani)

Hudzaifah ra berkata : “Yang pertama kali hilang dari agama kalian adalah khusyu’, dan yang terakhir kali hilang dari agama kalian adalah shalat. Kadang-kadang seseorang yang shalat tidak ada kebaikannya, dan hampir-hampir engkau masuk masjid tanpa menjumpai di dalamnya seorang pun yang khusyu’”.

Rasulullah saw menyebutkan tentang tingkatan pahala orang yang mengerjakan shalat:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

“Sesungguhnya seseorang selesai (dari shalat) dan tidaklah ditulis (pahala) baginya, kecuali sepersepuluh shalatnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, dan setengahnya”. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Hadits tersebut memberikan isyarat bahwa kwantitas dan kwalitas pahala shalat kita salah satunya tergantung pada kekhusyu’an, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas ra, “Engkau tidak mendapat pahala shalatmu kecuali yang engkau sadari dari shalat itu.”

Kenapa tidak khusyu’?

Banyak faktor yang mempengaruhi ketidakkhusyu’an. Bisa karena kita tidak memahami makna doa-doa dan bacaan yang ada dalam shalat.  Mungkin pula karena banyaknya pikiran atau urusan yang belum terselesaikan ketika kita hendak melakukan shalat.  Juga karena tidak menghadirkan hati dan jiwa kita ketika mulai takbiratul ihram sehingga pikiran kita melayang kemana-mana dan memikirkan hal-hal diluar shalat. Badan di masjid tapi terkadang pikiran melayang kemana-mana. Amat kontras dengan keadaan para generasi pendahulu kita (salaf shaleh), meski badan masih di rumah namun hati mereka sudah sampai ke masjid.

Faktor lain yang menyebabkan ketidak khusyu’an adalah mengerjakannya dengan tidak tumakninah (tenang), padahal itu termasuk kesalahan besar yang disebut oleh Rasulullah saw sebagai sebuah pencurian, bahkan pencurian terbesar adalah pencurian dalam shalat.

“Sejahat-jahatnya pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya”, mereka bertanya, ‘Bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?’ Beliau menjawab, “Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad)

Agar bisa khusyu’

Menghadirkan kekhusyu’an dalam shalat memang perkara yang tidak mudah. Namun dengan berusaha sambil memohon pertolongan kepada Allah, semuanya akan menjadi mudah. Diantara tips agar shalat kita khusyu’ adalah menghadirkan hati bahwa seolah shalat yang akan kita kerjakan adalah shalat yang terakhir kali di dunia ini.  Rasulullah saw pernah memberikan nasehat kepada seorang pemuda, “Shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah, seolah-olah engkau melihat Allah swt, apabila engkau tidak melihat-Nya maka ketahuilah sesungguhnya Dia melihatmu..” (HR. At-Thabrani)

Seorang ulama salaf, Hatim Al Asham, pernah ditanya bagaimana cara ia menunaikan shalat. Ia menjelaskan, “Saya berdiri sesuai yang diperintahkan, berjalan dengan tenang, memulai shalat dengan menghadirkan niat, bertakbir dengan keagungan, membaca dengan tartil dan perenungan, ruku’ dengan khusyu’, sujud dengan tawadhu’, berucap salam sesuai sunah dan dengan penuh keikhlasan kepada Allah tetapi aku khawatir bila shalatku tidak diterima.”

Usahakan untuk tidak berlama-lama dalam mengerjakan, karena bisa jadi akan menyebabkan kebosanan dan pikiran melayang. Ammar bin Yasir adalah seorang sahabat yang biasa mengerjakan satu shalat dengan ringan. Ketika ditanyakan, “Kenapa Anda mengerjakan shalat dengan ringan wahai Abu Yaqhzhan (julukan untuk Amar) ?” Ia menjawab, “Apakah kalian melihat aku mengurangi sesuatu dari batasan-batasannya?” Mereka menjawab,”Tidak.” Ia berkata, “Sesungguhnya aku mendahului gangguan setan.” Begitu pula Zubair dan Thalhah serta sekelompok sahabat Nabi, mereka adalah manusia yang paling ringan shalatnya. Batasannya, tidak terlalu panjang hingga menyebabkan lalai dan bosan juga tidak terlalu pendek hingga merusak kekhusyu’an.

Pahala khusyu’

Rasulullah saw menjanjikan pahala bagi mereka yang khusyu’ dalam shalatnya:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأ فَيُسْبِغُ الْوُضُوْءَ ثُمَّ يَقُوْمُ فِى صَلاَتِهِ فَيَعْلَمُ مَا يَقُوْلُ إِلاَّ انْتَفَلَ وَهُوَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Tidaklah seorang muslim berwudhu dan menyempurnakan wudhunya lalu melaksanakan shalat dan mengetahui apa yang dibacanya (dalam shalat) kecuali ia terbebas (dari dosa) seperti di hari ia dilahirkan ibunya.”(HR. Al-Hakim)

Hadits tersebut memberikan petunjuk kepada kita bahwa seolah-olah kekhusyu’an adalah penghapus yang mampu menghapus dosa yang telah berlalu dan menghancurkan kesalahan yang telah lewat. Satu shalat yang dijiwai ruh itu cukup merubah lembaran dan catatan amal kita menjadi putih bersih.

“Jika seorang hamba berdiri mengerjakan shalat, maka semua dosa-dosanya didatangkan lalu diletakkan di atas kepala dan kedua pundaknya. Tiap kali ia rukuk dan sujud maka dosa-dosanya berjatuhan.” (HR. Thabrani)

Abdurrahman Al Munawi mengaitkan hadits ini dengan kekhusyu’an, ia berkata, “Maksudnya tiap kali ia menyempurnakan satu rukun shalat, maka jatuhlah satu pilar dosa. Sehingga ketika ia selesai shalat habis sudah jatuhnya dosa. Ini dalam shalat yang memenuhi semua syarat, rukun dan kekhusu’an…”

Akhirnya kita memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari hati yang tidak khusyu’: “Ya Allah aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’ , dari jiwa yang tidak pernah puas dan dari doa yang tidak dikabulkan.”

(arrisalah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: