Nikmati Berislam, Bukan Mendiskusikannya

 

SUNGGUH banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kisah panggung kehidupan ini. Silih bergantinya waktu dari jam ke hari, memberi pendidikan kepada manusia, agar mereka bisa melangkah dengan bijaksana, hati-hati dan penuh kendali. Supaya manusia bisa memilih jalan mana yang mengantarnya kepada keselamatan, dan mana jalan yang menyesatkan. Mereka yang bisa memetik setiap ‘kisah hidup’, mengambil yang baik, dan menepis yang buruk akan menjadi orang yang memiliki nilai, memiliki arti sebagai manusia yang hakiki. Identitasnya sebagai manusia akan jelas dengan nilai-nilai yang membedakan dari makluk Tuhan lainnya.

Pada intinya, kehidupan ini adalah suatu perjalanan untuk mewujudkan dan menegakkan nilai-nilai itu. Sebagai orang yang beriman,kaum muslimin, nilai-nilai yang ingin kita tegakkan adalah nilai kebenaran yang termaktub di dalam kitab suci al-Quran dan sunnah Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Nilai itu tumbuh sebagai buah dari keimanan. Ibadah yang kita pupuk setiap hari akan menghasilkan buah keimanan itu.

Bila amal ibadah yang kita lakukan selama ini belum menghasilkan buah iman berarti ada yang perlu dibenahi dan diteliti ulang. Mengapa ibadah menjadi mandul. Mengapa komunikasi dengan Tuhan tidak membuahkan manfaat? Sekali lagi mungkin masih ada yang keliru.

Iman yang benar akan melahirkan dan memunculkan kekuatan. Dan kekuatan yang dimunculkan oleh jiwa yang beriman tidak lain adalah kekuatan kebenaran. Kekuatan ini adalah kekatan yang paling besar nilainya. Mulia. Maka, bagi siapa yang bersama-sama dengannya maka iapun akan menjadi mulia dan terangkat derajatnya. Kekuatan kebenaran ini sifatnya kekal dan tidak mudah rapuh oleh berbagai terpaan kehidupan itu sendiri. Ia tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan.

Yang akan rapuh adalah sang pembawa kebenaran itu sendiri. Para ustazd, para kiai, para ulama. Jasad-jasad mereka sirna ditelan bumi. Sedangkan kebenaran sebagai sesuatu yang bersifat hakiki al hakku mirrabikum, sebagai sesuatu yang berasal dari Tuhan yang Maha Mulia, keberadaannya tetap ada dan langgeng.

Allah berfirman dalam Surat Yunus:32
فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?.”

Dua Kecenderungan

Kebenaran yang hakiki tidak mau kompromi dengan kejahatan. Keduanya ada jarak, ada pembeda (furqon). Masing-masing memiliki kecenderungan sendiri-sendiri. Kecenderungan yang di bawa oleh kebenaran adalah kebaikan, kemaslahatan, kemuliaan, keindahan dan kemajuan. Sedang kecenderungan yang dimiliki oleh kejahatan adalah keburukan, kedurjanaan, kerusakan, kehinaan, kejelekan dan kemerosotan. Masing-masing sifat itu saling bertolak belakang dan bertentangan satu sama lain.

Para pembawa risalah tidak usah gegabah dengan menempati ruang pada satu sisi, kemudian mengambil posisi lain, pada waktu yang lain. Kita tidak perlu tampil dengan dua wajah. Apapun alasannya; seperti menyesuaikan kondisi zaman, biar fleksibel, supaya lebih dinamis dan sebagainya.

Mencampur adukan antara yang hak dengan yang batil hanya membuat “derajat” kebatilan semakin terangkat. Ibarat secawan susu yang ternoda oleh setetas nila. Nilai kebenaran justru tertimbun oleh pengaruh buruk kebatilan tersebut.

Terpeleset arti ‘toleransi’

Manusia sering mudah tergelincir oleh sebuah kata yang sederhana: toleransi. Toleransi sering menyeret orang bersikap longgar terhadap hukum-hukum yang telah Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) tetapkan. Biasanya ‘makhluk’ tolerensi memiliki segudang argumentasi untuk melegalisir sikap yang semula tegas menjadi samar, halal menjadi haram, boleh menjadi tidak atau sebaliknya. Karena lebarnya toleransi inilah, sering kita saksikan rontoknya kegiatan dakwah para da’i, muballigh, kiai, para pemimpin yayasan-yayasan Islam, tokoh Islam ke dalam jurang kehancuran.

Hukum hijab yang semula ketat menjadi longgar, bersalaman dengan wanita yang bukan mahram yang selama ini bagian perbuatan yang dicaci makinya habis-bahisan, menjadi biasa dilakukan. Perintah memelihara anak yatim dan memuliakannya bergesar menjadi sebaliknya, menyia-nyiakan dan menelantarkannya. Silaturrahmi yang semula digencarkan menjadi menipis, semakin menipis dan akhirnya hilang sama sekali.

Membaca al-Qur’an, menegakkan qiyamul lail, memberi perhatian khusus terhadap kaum dhuafa sudah semakin jauh dari jadual. Padahal hal-hal tersebut termasuk kategori perhatian yang sangat utama dulu-dulunya.

Ada banyak alasan yang bisa dikemukakan. Semuanya rasional dan bisa diterima dalam kerangka berpikir logika. Diantaranya adalah efisiensi dan efektifitas waktu, mengapa harus di tuntun-tuntun bukankah semua seduah dewasa?

Tapi berbarengan dengan itu sebenarnya telah semakin menjauh dari rel cita-cita. Setiap langkah program yang dilakukan tidak malah menghasilkan kekuatan akan tetapi malah menukik ke jurang kehancuran.

Gedung dibangun, organisasi diperbesar, personil diperlebar dan disebar ke berbagai pusat kekuasaan agar langkah-langkah tersebut dapat mendongkrak menuju ke cita-cita dengan lebih cepat. Tapi pada kenyataannya? Yang muncul adalah kekeringan jiwa, kegersangan ruhani.

Islam dan segala kemuliaannya hanya tinggal pada slogan-slogan. Keasyikan merasakan tambahan derajat ketika mengamalkan satu demi satu ayat-ayat al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  berganti dengan kepuasan dan kebahagiaan semu yang diperoleh dari target-target bendawi.

Ayat berubah menjadi alat, anak yatim menjadi batu loncatan penyelamat mencari harta dan keuntungan, silaturrahmi yang semula dipenuhi jiwa ketulusan sudah mulai ada target untung rugi, demikian juga dengan membaca al-Qur’an dan qiyamul lail (shalat malam), akan dilakukan bila semua itu menguntungkan. Kalau tidak sebaiknya ditangguhkan dengan berbagai macam tinjauan.

Akhirnya syetan benar-benar masuk dan mengobrak abrik semua harapan dan cita-cita.Kekuatan dan pamor yang dimiliki dan selalu dibangun sekian lama runtuh dan rontok oleh karena kelonggaran yang direkayasa oleh syetan laknatullah alaihi tersebut. Syetan telah bekerja dengan ekstra halusnya pada kelompok yang merasa dirinya sebagai bagian dari yang ingin berjuang dan berjihad fii sabilillah.

Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) mengisyaratkan kehidupan mereka sebagai kelompok manusia yang hidupnya sia-sia. Allah berfirman;

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. 18:104)

Alasan toleransi telah menjadikan manusia kehilangan apinya Islam, roh Islam dan kekuatan besar yang terkandung dalam jiwa iman. Fungsi kontrol(amar makruf nahi munkar) menjadi lenyap. Akhirnya hilanglah kekuatan. Benteng pertahanan menjadi lemah. Jiwa jihad menjadi kendor bagai kekurangan darah.

Lebih terpuruk bila toleransi atau kelonggaran-kelonggaran itu telah begitu jauhnya. Sehingga tanpa disadarinya telah berbelok dari misi suci, bermesra-mesraan dan berdampingan dengan kebatilan, kemungkaran dan bergandengan dengan penguasaQjuga yang selama ini menjadi ajang gunjingannya sebagai agen kezhaliman dan penindasan. Kelonggaran-kelonggaran terhadap hukum Allah terus menyeret para penegak kebenaran tenggelam bersama mereka yang selama ini memusuhinya. Mengapa terjadi? Karena telah terjadi pergeseran nilai itu.

Islam dan ajarannya tidak lagi dinikmati secara penuh. Wahyu dan nilai-nilai yang mengandung kekuatan doktrin Ilahi tidak lagi menggerakkan jiwa raganya untuk tampil menghadapi kehidupan, dengan semangat jiwa Islam. Bahkan Islam yang Indah, hanya hanya diperindah lewat kata-kata, cerita-cerita dan aneka diskusi yang tiada bertepi di meja makan. Yang akhirnya nilai Islam makin melebar keluar dari substansi yang sesungguhnya. Budaya silaturahmi tak akan berarti jika hanya ditulis dan diskusikan. Nikmatnya hanya benar-benar terasa indah, jika dipraktikkan. Saling berkunjung kepada saudara, tetangga dan sahabat. Saling memberi hadiah, cepat datang ketika ada saudara, tetangga dan sahabatnya yang sakit adalah nilai-nilai Islam yang hanya indah dan terasa jika dipraktikkan.

Taat pada suami, sayang dan perhatian kepada istri, baik melalui perkataan dan perbuatan juga hanya terasa indah dan nikmat jika dipraktikkan. Bukan diwacanakan layaknya kaum feminis dan orang Barat yang tidak suka kehadiran agama. Begitu juga syariat Islam yang diperintahkan kepada kita. Semua syariat seolah hanya akan membelengu kita, jika perintah-perintah itu tidak segera kita rasakan dahulu. Mari berkhusnudzon kepada Allah Subhanahu Wata’ala, lalu rasakan mengapa Allah memerintahkan semua aturan ini kepada kita. Dengan begitu, nikmat berislam ini baru akan terasa maknanya.

Nah, tak ada salahnya kika kita memulai merasakan  nikmat Islam secara sesungguhnya.*/aql

Keterangan: Indahnya Rumah-tangga bersama Islam/MB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: