Emprak, Kesenian Rakyat Asli Rembang yang Terpinggirkan

Kesenian Emprak cukup populer di sekitar Desa Kuangsan, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang. Kendati umurnya sudah cukup tua, kesenian ini sampai sekarang masih dianggap sebagai kesenian lokal yang tidak begitu populer di masyarakat luas.

KESENIAN Emprak di Kabupaten Rembang sesungguhnya sudah mulai dikenal sekitar 1925-an. Tidak diketahui dengan persis tahun berapa kesenian Emprak mulai ada di Kabupaten Rembang.

Menurut cerita masyarakat yang menggeluti kesenian ini, Emprak Kabupaten Rembang berbeda dengan jenis kesenian Emprak yang ada di daerah lain. Dan kesenian jenis ini, dipercaya hanya ada di Desa Kuangsan, Kecamatan Kaliori. Dari cerita awalnya Emprak dibawa oleh tokoh masyarakat setempat yang bernama Sahid alias Pak Kijo warga Banyudono Rembang.

Di Rembang, perkembangan serta popularitas kesenian Emprak memang tidak terlalu baik seperti perkembangan kesenian tradisi lain. Hal itu dituturkan Saliman, kepala Desa Kuangsan yang juga penanggung jawab Kesenian Emprak di desanya. Menurutnya, ada beberapa hal yang membuat kesenian Emprak tidak bisa berkembang dengan baik khususnya di Rembang sendiri.

Salah satunya disebabkan minimnya bantuan pendanaan dari pemerintah daerah untuk melestarikan kesenian asli Rembang ini. Termasuk juga pendampingan terkait regenerasinya. ”Bantuan ada, namun jumlahnya sangat terbatas untuk bisa digunakan sebagai upaya mengangkat kesenian Emprak ke taraf yang lebih tinggi,” katanya.

Diakuinya, dalam setiap penyelenggaraan acara kesenian yang dilakukan Pemerintah Daerah, kesenian Emprak sering dilibatkan. Namun permasalahannya tidak itu saja. Salah satunya adalah eksistensi para seniman dalam upaya mengembangkan kelompoknya.

”Tentunya itu harus disokong dengan pendanaan yang cukup. Selama ini pendanaannya dari swadaya seniman serta mengandalkan adanya tanggapan saja,” jelasnya.

Disebutkan, di daerahnya dan tentunya di Rembang, hanya ada dua kelompok kesenian Emprak. Yaitu kelompok kesenian Emprak Wahyu Suko Budoyo dan Sari Asih Budoyo. Dua kelompok itulah yang selama ini berusaha melestarikan kesenian Emprak meski dengan tertatih-tatih.

”Salah satu tokohnya, Mernyin. Dirinya harus bekerja sebagai pengumpul sampah. Namun semangatnya untuk berkesenian sangat besar,” ungkapnya.

Maka dari itu, dirinya berharap agar Pemerintah daerah bisa sedikit memperhatikan jenis kesenian ini. Termasuk memerhatikan masalah pendanaan yang selama ini ditanggung oleh senimannya sendiri.

Sementara itu, ketika ditemui beberapa waktu yang lalu, Karsono, Kabid Kebuyaan Dinas Kebudayaan, Kesenian dan Olahraga Kabupaten Rembang mengatakan, selama ini pihaknya telah berupaya mengenalkan kesenian Emprak kepada masyarakat luas. Bahkan beberapa kali kesenian ini dikirim menjadi duta Rembang untuk even kesenian tingkat nasional.

”Upaya itu yang kita lakukan untuk terus melestarikan kesenian emprak. Selalu kita libatkan jika ada acara kesenian, khususnya di Kabupaten Rembang,” katanya (*/joe)

(Sumber Jawa Pos Radar Kudus)

One Response to Emprak, Kesenian Rakyat Asli Rembang yang Terpinggirkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: