Potensi Bidang Peternakan

Sapi Potong

Sapi potong Kabupaten Rembang merupakan daerah/kawasan sentra produksi, sumber bibit dan bakalan sapi potong di Jawa Tengah dengan populasi sebanyak 93.329 ekor (tahun 2003) sedangkan pada tahun 2005 jumlah sapi potong adalah 96.844 ekor. Jenis/ras yang ada yaitu Peranakan Ongole (PO), American Ongole, Brahman, Simmental, dan Limousine.
Potensi ini didukung oleh

  • Kegiatan IB (Inseminasi Buatan) sebagai penghasil bibit/bakalan unggul yang mantap dengan jumlah inseminasi sebanyak 25.872  dosis dan jumlah akseptor IB sebanyak 23.932
  • Tersedianya tanah-tanah marginal sebagai calon lahan HPT  (Hijauan Pakan Ternak)
  • Permintaan pasar akan sapi potong maupun daging cenderung meningkat dan tersedianya pasar hewan yaitu pasar hewan Pamotan dan pasar hewan Kragan.

 

Kambing dan Domba
Selain sapi potong, Kabupaten Rembang juga sangat potensial bagi pengembangan ternak domba dan kambing. Hal ini bisa dilihat dari populasi kambing sebesar 87.966 pada Tahun 2003 dan bertambah menjadi 99.250 ekor pada tahun 2005 . Sedangkan domba berjumlah 60.445 ekor (tahun 2003) dan pada tahun 2005 menjai 73.209 ekor dengan daerah penyebaran yang relatif merata di semua Kecamatan. Jenis-jenis kambing yang dikembangkan di Kabupaten Rembang adalah Peranakan Etawa, Kacang dan Jawa Randu. Sedangkan jenis domba yaitu ekor gemuk dan lokal. Dari sisi pemasaran, prospek perdagangan kambing dan domba cukup menjanjikan. Ini bisa dilihat dari jumlah pengeluaran ternak domba dan kambing ke luar Kabupaten Rembang sebanyak 19.967 ekor (tahun 2003) dengan tujuan propinsi Jawa Barat seperti Kuningan, Bandung dan lain-lain. Padahal permintaan pasar baik lokal, regional, nasional dan internasional terus meningkat, sehingga peluang bagi pengembangan ternak domba dan kambing sangat terbuka baik untuk usaha penggemukan (Feed Lot) maupun pembibitan (Breeding Farm).

 
Itik Petelur
Kabupaten Rembang dengan bentang garis pantai sepanjang 60 Km dari barat ke timur menyimpan potensi yang cukup besar bagi pengembangan ternak itik petelur (Bangsa Indian Runner). Karena dengan sumber daya laut yang menghasilkan ikan dalam jumlah besar sepanjang tahun bisa dimanfaatkan secara optimal bagi supplai pakan ternak, terutama dalam sisi pemenuhan protein hewani yang sangat berperan pada tinggi rendahnya produktivitas telur. Perlu diketahui bahwa secara umum peternakan unggas di Indonesia sangat menggantungkan pasokan pakan protein hewani pada impor tepung ikan dari manca negara yaitu Chili sehingga jelas menghamburkan devisa. Kondisi ini tentunya merupakan peluang investasi bagi pengembangan ternak itik secara terpadu (Integrated System Farm) yaitu dengan mengembangkan fasilitas pembuat tepung ikan, pembangunan breeding farm itik, sekaligus pengelolaan pasca panen atau dengan kata lain membangun agribisnis itik petelur (on-farm dan off farm). Apalagi daerah-daerah yang merupakan lahan marginal baik dipinggir pantai maupun agak ke pedalaman masih terbuka sangat luas.
Sementara itu, populasi itik di Kabupaten Rembang tahun 2003 sebanyak 82.954 ekor dan tahun 2005 sebanyak 99.431 ekor dengan jumlah produksi telur sebesar 7.119.500 butir / tahun. Daerah-daerah sentra penghasil telur antara lain Rembang, Kaliori, Pamotan, Lasem, dan Bulu. Kecamatan lain yang terletak di pesisir pantai dan berpeluang bagi pengembangan itik adalah Sluke, Kragan, dan Sarang

Ayam Kampung
Populasi ayam kampung di Kabupaten Rembang pada tahun 2003 sebesar 698.193 ekor dan pada tahun 2005 sebesar 913.045 ekor, yang tersebar merata di semua wilayah Kecamatan. Mayoritas usaha ayam buras/kampung adalah sebagai usaha sambilan. Padahal kalau dilihat dari prospek pemasaran sebenarnya ayam kampung mempunyai potensi yang cukup besar. Saat ini saja pengusaha-pengusaha ayam bakar kampung seperti ayam bakar Wong Solo, ayam goreng Suharti, Mbok Berek tiap hari membutuhkan pasokan ratusan ayam kampung. Sementara Propinsi DKI Jakarta boleh dibilang merupakan pasar yang “Tidak terbatas” bagi pasokan ayam kampung, berapapun jumlahnya  akan diserap habis. Kondisi ini bahkan mendorong perusahaan- perusahaan besar seperti Charoen Phokpand, Anwar Sierad untuk menciptakan breeding ayam ras yang serasa ayam kampung walau tidak   100% seperti rasa daging ayam kampung.
Melihat potensi yang besar tersebut, Kabupaten Rembang sangat berpeluang bagi pengembangan agribisnis ayam kampung, hal ini didukung oleh :

  • Masih banyaknya lahan-lahan yang belum termanfaatkan,
  • Ketersediaan pakan protein hewani juga tinggi (produksi ikan laut) sehingga bisa memaksimalkan pertumbuhan ayam kampung.
  • Letak geografis Rembang pada jalur Jakarta-Surabaya sehingga memudahkan akses transportasi

Secara rinci perkembangan peternakan di Kabupaten Rembang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel Jumlah Peternak dan Hewan Ternak di Kabupaten Rembang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: